Matematika Itu Mudah dan Penting
Oleh: Fathurrofiq SS
Guru SMP Al Hikmah, Surabaya
Pelajaran matematika atau fisika, bagi banyak siswa di negeri ini, masih dianggap sebagai pelajaran monster. Sulit dan menakutkan. Hasil unas tiap tahun menunjukkan, banyak siswa yang gagal unas karena nilai matematika mereka jeblok.
Pada tahun ajaran 2002/2003, tahun pertama pelaksanaan unas, dunia pendidikan menengah dikejutkan oleh tingginya angka ketidaklulusan siswa SLTP, terutama siswa sekolah swasta. Di Surabaya, di antara 33.234 siswa SLTP, 512 siswa tidak lulus. Penyebabnya adalah nilai matematika. Pada unas 2008, tercatat 634 siswa SMA di Surabaya dan ratusan siswa lain di luar Surabaya tidak lulus. Penyebabnya, mereka jeblok di matematika.
Masalah serius pendidikan matematika itu harus segera diurus. Ketika Uni Soviet pada 1957 mampu meluncurkan Sputnik I ke bulan, Amerika Serikat (AS) ngotot membenahi program pendidikan matematika di tingkat dasar dan menengah. Usaha besar-besaran dilakukan untuk mendongkrak kemampuan matematika generasi muda. AS menyadari pentingnya matematika sebagai dasar sains dan teknologi. Satu dasawarsa kemudian, AS mengejar ketertinggalan dari Soviet di bidang sains dan teknologi ruang angkasa.
Telah dimaklumi, sains dan teknologi membutuhkan matematika sebagai bahasa numerik. Untuk menguasai teknologi, dibutuhkan kecerdasan matematis, lebih-lebih teknologi roket. Penerbangan angkasa jelas membutuhkan ketepatan perhitungan matematika. Tidak sembarang ilmuwan bisa menjadi ilmuwan NASA (badan antariksa AS).
Salah satu pangkal rendahnya kecerdasan matematis, seperti terlihat dalam unas, adalah citra dan kesan sulit yang melekat dalam pelajaran matematika. Menghadapi kondisi ini, sebelum mempersoalkan materi atau kompetensi matematika, guru dan sekolah harus meyakinkan anak didik bahwa matematika itu mudah dan penting. Matematika tak lebih dari bahasa sehari-hari. Hanya, abjadnya berupa numerik (1, 2, 3...). Matematika adalah kebutuhan dasar dalam menjalankan kehidupan.
Mengoreksi persoalan metode pengajaran tidaklah berlebihan. Anak Indonesia yang dikirim untuk mengikuti Olimpiade Sains dan Matematika tingkat internasional menunjukkan, kecerdasan matematis mereka bisa mengungguli anak dari negara maju.
Bandingkan juga buku-buku dan modul matematika, seperti New Syllabus Mathematic terbitan Shinglee Publisher Pte Ltd yang diedit Lee Peng Yee. Atau, The Ultimate Study Guide Revised GCSE Mathematic terbitan Letts Educational Chismick Centre. Buku-buku itu memuat materi dan soal dengan tingkat kesulitan serupa dengan buku-buku matematika tulisan pendidik Indonesia. Yang beda hanya buku-buku tersebut berbahasa Inggris.
Karena itu, persoalan metodis-didaktis dalam pembelajaran matematika, yang masih banyak kelemahan, mesti menjadi agenda utama pemerintah, sekolah, dan guru matematika untuk dibenahi. Gerakan memasyarakatkan matematika, menjadikan anak-anak cinta dan biasa dengan matematika, juga perlu digalakkan. Diharapkan, anak menganggap matematika sebagai sesuatu yang biasa, sebiasa bahasa sehari-hari.
Kemajuan teknologi, jika masih diidamkan bangsa ini untuk sejajar dengan bangsa maju, mensyaratkan penguasaan matematika. SK Menristek No 11/M/KP/IX/2004 mencanangkan, pada 2025 Indonesia harus masuk jajaran 20 negara termaju di dunia dalam penguasaan sains dan teknologi. Itu berarti 16 tahun lagi. Bukan waktu yang lama. (soe)
SUMBER: JAWA POS 15 maret 2009
Ternyata angka atau bilangan dengan menggunakan bahasa Indonesia
memiliki struktur atau pola yang unik dan mungkin tidak akan ditemukan
di bangsa lain. Hanya di Indonesia.
Setiap bangsa, negara dan daerah pasti memiliki penyebutan sendiri untuk
angka-angka dari satu, dua sampai dengan sepuluh. Misalnya angka tiga
kita menyebutnya di Indonesia tapi di negara lain ada yang menyebutnya
tri, three, san, tolu dan lain sebagainya.
Bahkan bila ada yang masih ingat angka-angka tersebut dalam bahasa
daerah teman-teman masing-masing dari satu sampai sepuluh maka kadang
ada angka yang penyebutannya sama dan ada pula yang berbeda dengan
Bahasa Indonesia. Mungkin tergantung dari enaknya di lidah atau di
telinga.
Langsung saja. Di sini saya bukan mengajarkan Anda berhitung tapi coba perhatikan deretan angka-angka di bawah ini.
1 = Satu
2 = Dua
3 = Tiga
4 = Empat
5 = Lima
6 = Enam
7 = Tujuh
8 = Delapan
9 = Sembilan
Ternyata setiap bilangan mempunyai saudara ditandai dengan huruf awal
yang sama. Bila kedua saudara ini dijumlahkan angkanya, maka hasilnya
pasti sepuluh. Contohnya Satu dan Sembilan. Mempunyai huruf awal yaitu S
dan bila djiumlahkan satu dan sembilan hasilnya adalah sepuluh.
Begitu juga dengan Dua dan Delapan, Tiga dan Tujuh kemudian Empat dan
Enam. Terurut sampai dengan angka Lima. Lima dijumlah dengan dirinya
sendiri juga hasilnya sepuluh.
Tidak sampai di situ, ternyata huruf awalnya juga punya peranan penting
terbentuknya bilangan itu. Misalnya Satu dan Sembilan sama-sama huruf
awalnya adalah S yang secara kebetulan berada pada urutan 19 dalam
alpabet. Bila angka satu dan sembilan dijumlahkan kemudian dibagi dua
untuk mencari rata-ratanya maka hasilnya adalah 5. Bentuk angka 5 sangat
identik dengan huruf S. Yang pernah membaca Matematika Alam Semesta,
perlu ditambahkan bahwa 19 adalah angka TUHAN.
Kemudian Dua dan Delapan. Huruf awalnya adalah D yang urutan keempat.
Bila delapan dibagi dua maka hasilnya adalah empat (pembenaran).
Selanjutnya Empat dan Enam. Huruf awalnya adalah E yang urutan kelima. Lima berada diantara Empat dan Enam (pembenaran lagi).
Sedangkan angka Lima huruf awalnya adalah L. Dimana L digunakan untuk
simbol angka lima puluh dalam perhitungan Romawi (pembenaran yang masih
nyambung).
Lalu bagaimana dengan Tiga dan Tujuh? Ternyata susah cari pembenarannya.
Ditambah, dikurang, dibagi dan dikali ternyata belum juga ketemu. Tiga
dikali tujuh hasilnya 21, kurang satu angka dengan huruf T yang urutan
ke 20. Tapi simbol V digunakan untuk menunjukkan angka tujuh dalam
perhitungan Arabic. Dan V diurutan ke-22.
Ternyata, tidak pakai matematika. Cukup ditulis saja di kertas kosong
kemudian pasti bisa ketemu hubungannya. Coba tulis huruf T kecil (t) di
sebuah kertas. Kemudian putar kertasnya 180 derajat maka kamu bisa lihat
angka tujuh dengan jelas. Lalu bagaimana dengan angka tiga? Juga sama.
Tulis huruf T besar di kertas pakai font Times New Roman kemudian putar
90 derajat ke kanan searah jarum jam. Tada…. Kamu pasti bisa lihat angka
tiga dengan jelas. Tapi sedikit mancung. (pembenaran yang juga
dipaksakan sekali).
Pola unik ini mungkin hanya bisa ditemukan di Indonesia. Lalu bagaimana
dengan di Malaysia yang juga memakai bahasa yang sama? Ternyata di
Malaysia angka 8 tidak disebut sebagai Delapan tapi Lapan. Jadi pola ini
hanya milik Indonesia. Jangan sampai diklaim juga sama mereka.
Sumber: http://forumsains.com
Misteri Bilangan Lubang Hitam : 123
Dalam astronomi dan fisika, kita mengenal adanya suatu fenomena alam yang sangat menarik yaitu lubang hitam (black hole). Lubang hitam adalah suatu entitas yang memiliki medan gravitasi yang sangat kuat sehingga setiap benda yang telah jatuh di wilayah horizon peristiwa (daerah di sekitar inti lubang hitam), tidak akan bisa kabur lagi. Bahkan radiasi elektromagnetik seperti cahaya pun tidak dapat melarikan diri, akibatnya lubang hitam menjadi "tidak kelihatan".
Ternyata, dalam matematika juga ada fenomena unik yang mirip dengan fenomena lubang hitam yaitu bilangan lubang hitam. Bagaimana sebenarnya bilangan lubang hitam itu? Mari kita bermain-main sebentar dengan angka.
Coba pilih sesuka hati Anda sebuah bilangan asli (bilangan mulai dari 1 sampai tak hingga). Sebagai contoh, katakanlah 141.985. Kemudian hitunglah jumlah digit genap, digit ganjil, dan total digit bilangan tersebut. Dalam kasus ini, kita dapatkan 2 (dua buah digit genap), 4 (empat buah digit ganjil), dan 6 (enam adalah jumlah total digit). Lalu gunakan digit-digit ini (2, 4, dan 6) untuk membentuk bilangan berikutnya, yaitu 246.
Ulangi hitung jumlah digit genap, digit ganjil, dan total digit pada bilangan 246 ini. Kita dapatkan 3 (digit genap), 0 (digit ganjil), dan 3 (jumlah total digit), sehingga kita peroleh 303. Ulangi lagi hitung jumlah digit genap, ganjil, dan total digit pada bilangan 303. (Catatan: 0 adalah bilangan genap). Kita dapatkan 1, 2, 3 yang dapat dituliskan 123.
Jika kita mengulangi langkah di atas terhadap bilangan 123, kita akan dapatkan 123 lagi. Dengan demikian, bilangan 123 melalui proses ini adalah lubang hitam bagi seluruh bilangan lainnya. Semua bilangan di alam semesta akan ditarik menjadi bilangan 123 melalui proses ini, tak satu pun yang akan lolos.
Tapi benarkah semua bilangan akan menjadi 123? Sekarang mari kita coba suatu bilangan yang bernilai sangat besar, sebagai contoh katakanlah 122333444455555666666777777788888888999999999. Jumlah digit genap, ganjil, dan total adalah 20, 25, dan 45. Jadi, bilangan berikutnya adalah 202.545. Lakukan lagi iterasi (pengulangan), kita peroleh 4, 2, dan 6; jadi sekarang kita peroleh 426. Iterasi sekali lagi terhadap 426 akan menghasilkan 303 dan iterasi terakhir dari 303 akan diperoleh 123. Sampai pada titik ini, iterasi berapa kali pun terhadap 123 akan tetap diperoleh 123 lagi. Dengan demikian, 123 adalah titik absolut sang lubang hitam dalam dunia bilangan.
Namun, apakah mungkin saja ada suatu bilangan, terselip di antara rimba raya alam semesta bilangan yang jumlahnya tak terhingga ini, yang dapat lolos dari jeratan maut sang bilangan lubang hitam, sang 123 yang misterius ini?
Sumber: http://forumsains.com
Skala Angka Pengukuran dalam Pandangan Statistik
Skala pengukuran merupakan, satu pengetahuan yang sangat penting sebelum
seseorang melakukan pengolahan data. Skala pengukuran pertama kali
diperkenalkan oleh S.S. Steven. Namun, sering kali hal ini dianggap
remeh dan diabaikan. Pada dasarnya setiap tools (alat bantu hitung)
statistik tidak bisa digunakan begitu saja, ada persyaratan (asumsi yang
harus dipenuhi), misalnya : skala data, distribusi data, independensi
data, dan variabilitas data.
Berdasarkan sifatnya, ada empat pembedaan skala :
1. Skala nominal
Sifat : membedakan.
Contoh : jenis kelamin (laki-laki, perempuan), agama (Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha).
Contoh metode statistik : chi-square, crostab, analisis korespondensi, regresi logistik, latent profile analysis.
2. Skala ordinal
Sifat : membedakan, ada urutan.
Contoh : tingkat pendidikan (SD, SMP, SMU, Perguruan tinggi), nilai akreditasi (A, B, C, D, E).
Contoh metode statistik : korelasi spearman, ordinal logistic regression, attribute agreement analysis.
3. Skala interval
Sifat : membedakan, ada urutan, memiliki jarak yang sama.
Contoh : usia, skor penilaian test psikologi.
Contoh metode statistik : korelasi pearson, analisis regresi, analisis faktor, K-means cluster, diskriminan.
4. Skala rasio
Sifat : membedakan, ada urutan, memiliki nilai nol mutlak.
Contoh : nilai penjualan (sales), jumlah pelanggan.
Contoh metode statistik yang dapat digunakan :korelasi pearson, analisis
regresi, analisis faktor, K-means cluster, analisis diskriminan,
analisis time series.
Sumber: http://forumsains.com
Matematika dan Bilangan Prima
Bilangan prima adalah dasar dari matematika, termasuk salah satu misteri
alam semesta. Tidak pernah terbayangkan oleh manusia sebelumnya, sampai
ditemukan bahwa bilangan prima juga merupakan dasar dari kehidupan
alam, yang dengan usaha keras ingin dijelaskan oleh ilmu ini dalam
sains. Pandangan orang umumnya mengatakan bahwa matematika hanyalah
penemuan manusia biasa. Sebaliknya, beberapa pemikir masa lalu -
Pythagoras, Plato, Cusanus, Kepler, Leibnitz, Newton, Euler, Gauss,
termasuk para revolusioner abad ke-20, Planck, Einstein dan Sommerffeld -
yakin bahwa keberadaan angka dan bentuk geometris merupakan konsep alam
semesta dan konsep yang bebas (independent). Galileo sendiri
beranggapan bahwa matematika adalah bahasa Tuhan ketika menulis alam
semesta.
Bilangan Prima dan Rencana Penciptaan
Salah satu teka-teki lama yang belum sepenuhnya terpecahkan adalah
bilangan prima. Bilangan prima adalah bilangan yang hanya dapat habis
dibagi oleh bilangan itu sendiri dan angka 1. Angka 12 bukan merupakan
bilangan prima, karena dapat habis dibagi oleh angka lainnya 2, 3, dan
4. Bilangan prima adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, .... dan seterusnya. Banyak
bilangan prima tidak terhingga. Tidak peduli berapa banyak kita
menghitung, pasti kita akan menemukan bilangan prima, walaupun mungkin
makin jarang_ Hal ini menjadi teka-teki kita, jika kita ingat bilangan
ini tidak dapat dibagi oleh angka lainnya. Salah satu hal yang
menakjubkan, dalam era komputer kita memberikan kodetifikasi semua hal
yang penting dan rahasia, di bank, asuransi, dan perhitungan-perhitungan
peluru kendali, security system dengan enkripsi, dalam angka jutaan
bilangan-bilangan yang tidak habis dibagi oleh angka lainnya. Ini
diperlukan karena dengan penggunaan angka lain, kodetifikasi tadi dapat
dengan mudah ditembus.
Fenomena inilah yang ditemukan ilmuwan dari Duesseldorf (Dr. Plichta),
sehubungan dengan penciptaan alam, yaitu distribusi misterius bilangan
prima. Para ilmuwan sudah lama percaya bahwa bilangan prima adalah
bahasa universal yang dapat dimengerti oleh semua makhluk (spesies)
berintelegensia tinggi, sebagai komunikasi dasar antarmereka. Bahasa ini
penuh misteri karena berhubungan dengan perencanaan universal kosmos.
Bilangan lain yang perlu diketahui adalah sisa dari bilangan prima,
yakni bilangan komposit, kecuali angka 1, yaitu 4, 6, 8, 9,10,12,14,15,
.... dan seterusnya. Dengan kata lain, bilangan komposit adalah bilangan
yang terdiri dari minimal dua faktor prima. Misalnya :
6 = 2 x 3 = 2 . 3
30 = 2 x 3 x 5 = 2 . 3 . 5
85 = 5 x 17 = 5 . 17
Selain itu, dikenal pula bilangan khusus, yang disebut prima kembar,
yaitu bilangan prima yang angkanya berdekatan dengan selisih 2. Misalnya
:
(3,5)
(5,7)
(11,13)
(17,19)
dan seterusnya.
Mayoritas ahli astrofisika juga percaya bahwa di alam semesta terdapat
"kode kosmos" atau yang disebut cosmic code based on this order, yang
dikenal juga sebagai Theory of Everything (TOE), yang artinya terdapat
konstanta-konstanta alam semesta yang saling berhubungan berdasarkan
perintah pendesain. Sekali perintah tersebut dapat dipecahkan, maka hal
ini akan membuka pandangan sains lainnya yang berhubungan.
Sumber: http://forumsains.com
Menuju Ke Abstrak
Pemahaman akan pengertian abstrak sepertinya masih dianggap sebagai
suatu yang sulit bahkan tak teraplikasi. Bagi orang di pinggir jalan,
boleh jadi menganggap orang yang belajar matematika abstrak sebagai
orang sinting.
Saatnya kita harus menguak apa yang dimaksud abstrak dalam
matematika? Apakah suatu yang tidak real? Hanyakah ngoyoworo ataukah
hanyakah khayalan orang? Apakah seperti aljabar abstrak itu suatu yang
mengada-ada saja ataukah memang harus menuju ke situ?
Berikut semoga bisa memberi gambaran akan pemahaman tersebut.
Sebagai langkah-langkah sebelum ke abstrak, kita berkecimpung dengan
aritmatika yang di dalamnya ada proses seperti penjumlahan, perkalian,
dan ada penggunaan variabel. Pengenalan abstrak di SMA biasanya dimulai
dengan pelajaran induksi matematik dimana harus membuktikan keteraturan
sampai tak hingga dengan membuktikan implikasi Pk--->Pk+1 dan
membuktikan P0 benar.
Waktu kita melangkah dari perhitungan dasar ke penggunaan variabel,
kita meluaskan orientasi kepada cakupan perhitungan yang lebih luas.
Kita bisa mengoperasikan bilangan-bilangan tanpa mengetahui berapa
bilangannya, cukup dengan variabel. Nah ini, dari aritmatika menuju
abstrak yang banyak membuat kepala para mahasiswa sakit, sebenarnya juga
merupakan perluasan orientasi menuju semakin beragam dan semakin luas.
Kita mulai dengan mempelajari sekelompok obyek, lalu interaksi antar
obyek, yang lalu kita namakan operasi biner, mempelajari keteraturannya,
mempelajari ciri-cirinya, lalu memformulasikannya menjadi
aksioma-aksioma.
Contoh di bawah mungkin bisa menjadi bayangan akan langkah tersebut, kita mulai dengan PENGANTAR TEORI BILANGAN.
Subgroup bilangan bulat
Kita perhatikan perhatikan himpunan bilangan bulat (integer), yaitu
{...,-3,-2,-1,0,1,2,3,...} yang lalu biasa dinotasikan dengan Z. <
huruf Z ini adalah diambil dari singkatan Zahl=bilangan dari Bhs
Jerman>
Diberikan suatu himpunan bagian dari Z, katakanlah himpunan S. Himpunan S disebut subgroup dari Z jika memenuhi :
(i) x+y anggota dari S untuk setiap x dan y anggota dari S,
(ii) 0 anggota dari S,
(iii) -x anggota dari S untuk setiap x anggota dari S.
< catatan : Kalau pernah mempelajari tentang teori group, maka
syarat-syarat di atas tidak lain sifat tertutup(i), ada elemen
identitas(ii), dan untuk setiap anggota dari S yang bukan 0 punya
invers. Di kasus bilangan bulat ini sifat asosiatif bisa dirunut dg
mudah dari sifat tertutup >
Suatu himpunan bagian tak kosong S dari Z adalah subgroup jika dan hanya
jika x - y anggota dari S untuk setiap x dan y anggota dari S.
Bukti :
S subgroup dari Z ==> x - y anggota S untuk setiap x,y anggota S
Karena y anggota dari S, maka -y anggota dari S
Karena x dan -y anggota dari S, maka x+(-y)=x-y anggota dari S
x - y anggota S untuk setiap x,y anggota S ==> S subgroup dari Z
Karena S tak kososng maka ada anggotanya, misalkan x anggota dari S,
maka x-x=0 adalah anggota dari S , jadi 0 dan x anggota dari S sehingga
0-x=-x anggota dari S , lalu jika x dan y anggota dari S, sehingga -y
anggota dari S, lalu x-(-y)=x+y anggota dari S . Terbukti.
Taruhlah m adalah bilangan bulat, dan kita buat notasi mZ={mn|n anggota Z}. Maka mZ adalah subgroup dari Z.
Teorema I
Jika S adalah saubgroup dari Z, maka S = mZ untuk suatu bilngan bulat
tak negatif m. < dengan kata lain, teorema ini mengatakan bahwa kalau
S adalah subgroup dari Z, maka pasti berbentuk himpunan kelipatan dari
suatu bilangan bulat tak negatif {0,1,2,3,...} >
Bukti :
Kita buat dua kemungkinan, yaitu :
pertama --> jika S = {0}, maka dapat ditulis S=mZ dengan m=0.
kedua --> jika S tidak sama dengan {0}, atau S memuat bilangan bulat
tak nol. Maka tentunya S memuat bilangan bulat positif < karena jika x
anggota S maka -x juga anggota S >. Kita ambil misalnya m adalah
bilangan bulat positif yang terkecil di S. Lalu suatu bilangan bulat
positif n di S akan dapat ditulis dalam bentuk n=qm+r, dimana q adalah
suatu bilangan bulat positif dan r suatu bilangan bulat yang memenuhi
0<=r. Dengan demikian r juga anggota S, karena r=n-qm. Karena
diasumsikan m adalah yang terkecil, maka haruslah r=0. Jadi n=qm, dengan
demikian n anggota mZ, yang berarti S=mZ. Terbukti.
Teorema tersebut mengatakan bahwa kalau sebuah himpunan yang anggotanya
bilangan-bilangan bulat serta memenuhi tiga aksioma untuk subgroup di
atas, maka tentulah anggota-anggota himpunan tersebut berbentuk
kelipatan dari suatu bilangan bulat positif.
Faktor Persekutuan Terbesar
Definisi :
Taruhlah a1,a2,...,ar adalah bilangan bulat, yang tidak semuanya nol.
Faktor persekutuan dari a1,a2,...,ar adalah suatu bilangan bulat yang
membagi habis setiap a1,a2,...,ar. Faktor persekutuan terbesar dari
a1,a2,...,ar adalah bilangan bulat positif terbesar yang membagi habis
setiap a1,a2,...,ar. Faktor persekutuan terbesar dari a1,a2,...,ar
dinaotasikan dengan (a1,a2,...,ar).
Teorema II
Taruhlah a1,a2,...,ar adalah bilangan bulat, yang tidak semuanya nol.
Maka ada bilangan-bilangan bulat sebutlah u1,u2,...,ur sedemikian
hingga
(a1,a2,...,ar)=a1u1 + a2u2 + . . . +arur
dimana (a1,a2,...,ar) adalah Faktor Persekutuan Terbesar dari a1,a2,...,ar.
Bukti :
Pembuktian teorema ini, pertama kita harus menunjukkan bahwa suatu
himpunan S yang anggota-anggotanya berbentuk n1a1 + n2a2 + . . . +nrar
dimana n1, n2,..., nr bilangan-bilangan bulat merupakan subgroup dari Z
dengan menunjukkan terpenuhinya 3 aksioma di atas. Lalu setelah
terbukti, maka karena
S subgroup Z, akan berbentuk mZ. Dengan kata lain bahwa setiap anggota S
merupakan kelipatan dari m. Dengan demikian m adalah faktor persekutuan
dari a1,a2,...,ar. Karena FPB adalah faktor persekutuan, maka otomatis
ada u1,u2,...,ur sehingga (a1,a2,...,ar)=a1u1 + a2u2 + . . . +arur.
Terbukti.
Kiranya, ini bisa menjadi gambaran bahwa yang namanya abstrak bukan
suatu yang tidak aplikatif, melainkan adalah perluasan orientasi kita
dalam memandang. Memang terlihat lebih sulit, karena kita mencoba
menengok yang disebalik dari yang nampak.
Sumber: http://forumsains.com
Misteri Bilangan Nol
Ratusan tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan yakni
1, 2, 2, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kemudian, datang angka 0, sehingga
jumlah lambang bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta
bilangan 0, bukti sejarah hanya memperlihatkan bahwa bilangan 0
ditemukan pertama kali dalam zaman Mesir kuno. Waktu itu bilangan nol
hanya sebagai lambang. Dalam zaman modern, angka nol digunakan tidak
saja sebagai lambang, tetapi juga sebagai bilangan yang turut serta
dalam operasi matematika. Kini, penggunaan bilangan nol telah menyusup
jauh ke dalam sendi kehidupan manusia. Sistem berhitung tidak mungkin
lagi mengabaikan kehadiran bilangan nol, sekalipun bilangan nol itu
membuat kekacauan logika. Mari kita lihat.
Nol, penyebab komputer macet
Pelajaran tentang bilangan nol, dari sejak zaman dahulu sampai sekarang
selalu menimbulkan kebingungan bagi para pelajar dan mahasiswa, bahkan
masyarakat pengguna. Mengapa? Bukankah bilangan nol itu mewakili sesuatu
yang tidak ada dan yang tidak ada itu ada, yakni nol. Siapa yang tidak
bingung? Tiap kali bilangan nol muncul dalam pelajaran Matematika selalu
ada ide yang aneh. Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0
maka menjadi tidak ada. Mungkinkah 5*0 menjadi tidak ada? (* adalah
perkalian). Ide ini membuat orang frustrasi. Apakah nol ahli sulap?
Lebih parah lagi-tentu menambah bingung-mengapa 5+0=5 dan 5*0=5 juga?
Memang demikian aturannya, karena nol dalam perkalian merupakan bilangan
identitas yang sama dengan 1. Jadi 5*0=5*1. Tetapi, benar juga bahwa
5*0=0. Waw. Bagaimana dengan 5o=1, tetapi 50o=1 juga? Ya, sudahlah.
Aturan lain tentang nol yang juga misterius adalah bahwa suatu bilangan
jika dibagi nol tidak didefinisikan. Maksudnya, bilangan berapa pun yang
tidak bisa dibagi dengan nol. Komputer yang canggih bagaimana pun akan
mati mendadak jika tiba-tiba bertemu dengan pembagi angka nol. Komputer
memang diperintahkan berhenti berpikir jika bertemu sang divisor nol.
Bilangan nol: tunawisma
Bilangan disusun berdasarkan hierarki menurut satu garis lurus. Pada
titik awal adalah bilangan nol, kemudian bilangan 1, 2, dan seterusnya.
Bilangan yang lebih besar di sebelah kanan dan bilangan yang lebih kecil
di sebelah kiri. Semakin jauh ke kanan akan semakin besar bilangan itu.
Berdasarkan derajat hierarki (dan birokrasi bilangan), seseorang jika
berjalan dari titik 0 terus-menerus menuju angka yang lebih besar ke
kanan akan sampai pada bilangan yang tidak terhingga. Tetapi, mungkin
juga orang itu sampai pada titik 0 kembali. Bukankah dunia ini bulat?
Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan bahwa kalau ia berlayar
terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa?
Lain lagi. Jika seseorang berangkat dari nol, ia tidak mungkin sampai ke
bilangan 4 tanpa melewati terlebih dahulu bilangan 1, 2, dan 3. Tetapi,
yang lebih aneh adalah pertanyaan mungkinkan seseorang bisa berangkat
dari titik nol? Jelas tidak bisa, karena bukankah titik nol sesuatu
titik yang tidak ada? Aneh dan sulit dipercaya? Mari kita lihat lebih
jauh.
Jika di antara dua bilangan atau antara dua buah titik terdapat sebuah
ruas. Setiap bilangan mempunyai sebuah ruas. Jika ruas ini
dipotong-potong kemudian titik lingkaran hitam dipindahkan ke
tengah-tengah ruas, ternyata bilangan 0 tidak mempunyai ruas. Jadi,
bilangan nol berada di awang-awang. Bilangan nol tidak mempunyai tempat
tinggal alias tunawisma. Itulah sebabnya, mengapa bilangan nol harus
menempel pada bilangan lain, misalnya, pada angka 1 membentuk bilangan
10, 100, 109, 10.403 dan sebagainya. Jadi, seseorang tidak pernah bisa
berangkat dari angka nol menuju angka 4. Kita harus berangkat dari angka
1.
Mudah, tetapi salah
Guru meminta Ani menggambarkan sebuah garis geometrik dari persamaan
3x+7y = 25. Ani berpikir bahwa untuk mendapatkan garis itu diperlukan
dua buah titik dari ujung ke ujung. Tetapi, setelah berhitung-hitung,
ternyata cuma ada satu titik yang dilewati garis itu, yakni titik A(6,
1), untuk x=6 dan y=1. Sehingga Ani tidak bisa membuat garis itu. Sang
guru mengingatkan supaya menggunakan bilangan nol. Ya, itulah jalan
keluarnya. Pertama, berikan y=0 diperoleh x=(25-0)/3=8 (dibulatkan),
merupakan titik pertama, B(8,0). Selanjutnya berikan x=0 diperoleh
y=(25-3.0)/7=4 (dibulatkan), merupakan titik kedua C(0,4). Garis BC,
adalah garis yang dicari. Namun, betapa kecewanya sang guru, karena
garis itu tidak melalui titik A. Jadi, garis BC itu salah.
Ani membela diri bahwa kesalahan itu sangat kecil dan bisa diabaikan.
Guru menyatakan bahwa bukan kecil besarnya kesalahan, tetapi manakah
yang benar? Bukankah garis BC itu dapat dibuat melalui titik A? Kata
guru, gunakan bilangan nol dengan cara yang benar. Bagaimana kita harus
membantu Ani membuat garis yang benar itu? Mudah, kata konsultan
Matematika. Mula-mula nilai 25 dalam 3x+7y harus diganti dengan hasil
perkalian 3 dan 7 sehingga diperoleh 3x+7y=21.
Selanjutnya, dalam persamaan yang baru, berikan y=0 diperoleh x=21/3=7
(tanpa pembulatan) itulah titik pertama P(6,1). Kemudian berikan nilai
x=0 diperoleh y=21/7 = 3 (tanpa pembulatan), itulah titik kedua Q(0, 3).
Garis PQ adalah garis yang sejajar dengan garis yang dicari, yakni
3x+7y=25. Melalui titik A tarik garis sejajar dengan PQ diperoleh garis
P1Q1. Nah, begitulah. Sang murid telah menemukan garis yang benar berkat
bantuan bilangan nol.
Akan tetapi, sang guru masih sangat kecewa karena sebenarnya tidak ada
satu garis pun yang benar. Bukankah dalam persamaan 3x1+7x2=25 hanya ada
satu titik penyelesaian yakni titik A, yang berarti persamaan 3x1+7x2
itu hanya berbentuk sebuah titik? Bahkan pada persamaan 3x1+7x2=21 tidak
ada sebuah titik pun yang berada dalam garis PQ. Oleh karena itu, garis
PQ dalam sistem bilangan bulat, sebenarnya tidak ada. Aneh, bilangan
nol telah menipu kita. Begitulah kenyataannya, sebuah persamaan tidak
selalu berbentuk sebuah garis.
Bergerak, tetapi diam
Bilangan tidak hanya terdiri atas bilangan bulat, tetapi juga ada
bilangan desimal antara lain dari 0,1; 0,01; 0,001; dan seterusnya
sekuat-kuat kita bisa menyebutnya sampai sedemikian kecilnya. Karena
sangat kecil tidak bisa lagi disebut atau tidak terhingga dan pada
akhirnya dianggap nol saja. Tetapi, ide ini ternyata sempat
membingungkan karena jika bilangan tidak terhingga kecilnya dianggap nol
maka berarti nol adalah bilangan terkecil? Padahal, nol mewakili
sesuatu yang tidak ada? Waw. Begitulah.
Berdasarkan konsep bilangan desimal dan kontinu, maka garis bilangan
yang kita pakai ternyata tidak sesederhana itu karena antara dua
bilangan selalu ada bilangan ke tiga. Jika seseorang melompat dari
bilangan 1 ke bilangan 2, tetapi dengan syarat harus melompati terlebih
dahulu ke bilangan desimal yang terdekat, bisakah? Berapakah bilangan
desimal terdekat sebelum sampai ke bilangan 2? Bisa saja angka 1/2.
Tetapi, anda tidak boleh melompati ke angka 1/2 karena masih ada
bilangan yang lebih kecil, yakni 1/4. Seterusnya selalu ada bilangan
yang lebih dekat... yakni 0,1 lalu ada 0,01, 0,001, ..., 0,000001.
demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya bilangan yang paling dekat
dengan angka 1 adalah bilangan yang demikian kecilnya sehingga dianggap
saja nol. Karena bilangan terdekat adalah nol alias tidak ada, maka Anda
tidak pernah bisa melompat ke bilangan 2?
Sumber: http://duniaesai.com/sains/sains16.htm






0 komentar:
Posting Komentar